Tuesday, 6 April 2010

Lima Malaikat

Mengumpulkan uang itu sulit, tetapi menghabiskannya mudah, dan cara termudah untuk kehilangan uang adalah dengan berjudi. Semua penjudi pada akhirnya adalah pecundang. Meskipun demikian, masih saja orang senang meramal masa depan dan berharap mendapatkan banyak uang dari berjudi. Saya menceritakan kisah berikut ini untuk menunjukkan betapa berbahayanya meramal masa depan itu, sekalipun kita mendapat pertanda.

Pada suatu pagi, seorang teman terbangun dari sebuah mimpi yang terasa sangat nyata. Dia bermimpi tentang lima malaikat yang memberinya lima kendi emas yang besar sebagai lambang keberuntungan. Ketika dia membuka matanya, para malaikat itu tak ada di kamar tidurnya, dan sialnya guci-guci emasnya juga tidak ada. Bagaimanapun, itu adalah mimpi yang sangat aneh.

Ketika dia pergi ke dapur, dia melihat istrinya telah membuatkan lima butir telur rebus dengan lima potong roti panggang untuk sarapannya. Di halaman depan koran pagi, dia mengamati tanggal hari itu, lima mei (bulan kelima). Hal-hal aneh terus berlanjut. Dia membalikkan lembaran koran ke halaman pacuan kuda. Dia tertegun melihat bahwa di Ascot (lima huruf), di balapan kelima, kuda nomor lima bernama...Lima Malaikat! Mimpi itu ternyata sebuah pertanda.

Dia mengambil cuti setengah hari. Dia menarik dari tabungannya di bank. Dia pergi ke arena pacuan kuda, ke bandar kelima, dan memasang taruhannya: $5.000 untuk kuda nomor lima, balapan nomor lima, Lima Malaikat, untuk menang. Mimpi itu pasti tak akan salah! Angka hoki lima pasti tepat.

Mimpinya ternyata memang tidak salah. Si kuda menyelesaikan balapan di urutan ke-5.



Disadur dari buku Horeee! Guru Si Cacing Datang: Catatan Perjalanan Ajahn Brahm, Tour de Indonesia 2009 ( Chebonk Comm )

No comments:

Post a Comment